"Mama udah happy?"
Ya Allah, Bun, rasanya campur aduk mendengar pertanyaan itu dari anak 20 bulan yang baru saja saya omelin habis-habisan atas kesalahan yang tidak terlalu berarti. Saya pun merasa bersalah karena saya sadar bahwa omelan ini bukan tentang kesalahannya.
Lalu saya menangis, di depan anak ini. Tangis saya makin menjadi setelah mendengar pertanyaan itu. Bisa-bisanya dia masih mengkhawatirkan kebahagiaan saya.
"Sini sayang, mama boleh minta peluk? Maafin mama ya, sayang.."
---
Ada hari ketika otak benar-benar burn out. Butuh berbulan-bulan untuk menggali permasalahan dan "berdamai" dengan segala hal. Butuh juga "berkelana" ke sana sini untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang seperti tidak ada jawaban. Sempat juga tidak percaya kepada Tuhan, marah atas jalan yang diberikan, dan marah dengan keadaan.
Rasanya seperti seluruh dunia tidak ada yang memihak, atau sendirian di tengah kegaduhan.. tidak ada yang mendengar padahal saya sedang berteriak, menganggap saya bercanda padahal saya sedang benar-benar ketakutan.. berkali-kali bilang "buat apa hidup kalau nggak ada yang mendengar".
Rasanya berat ketika saya tersadar bahwa saya sedang hidup di tengah dunia yang minim empati. Rasanya masih tidak terima melihat orang-orang yang dulu punya jiwa sosial tinggi tapi sekarang jadi memikirkan diri sendiri.
Suatu hari nih, Bun, ketika emosi saya berada di puncak-puncaknya, saya minta izin untuk pergi beli bubur. Lalu saya pergi cukup jauh, ke tempat di mana dulu saya biasa menyepi. Di sepanjang perjalanan, beberapa kali nyawa saya seperti mau hilang karena kesalahan orang di jalan, tapi Tuhan masih menyelamatkan. Saya pun protes, "Kenapa masih kau selamatkan ya, Tuhan?"
Sampai di masjid, ambil wudlu, Solat Dhuha, mengaji, lalu mengadu.. lalu teringat, berapa kali saya diselamatkan.. saya masih bertanya, kenapa? kenapa engkau masih melindungi?
Walaupun pulang dengan banyak pertanyaan, tapi entah kenapa jadi lebih lega karena sudah mengadu.
Suatu hari, seorang teman mengirim pesan, "Gue lagi nyari nama anak, terus ketemu nama lu. Artinya: Yang Bertahan".
Di situ saya sadar, mungkin banyak hal yang nggak bisa saya terima di dunia ini, banyak juga hal yang membuat saya takut, tapi... semua orang merasakan itu, apalagi di usia dewasa. Ya nggak sih, Bun?
Ini karena dunia yang kita hadapi makin kompleks. Bukan karena dunianya yang berubah, tapi karena pengalaman kita yang bertambah. Yang membedakan antara manusia dalam menghadapi perubahan ini mungkin hanya dua: bisa bertahan, atau tidak.
Setelah berbulan-bulan, saya baru menyadari pentingnya bersabar. Karena sabar itulah kita bisa lebih tenang, dan akhirnya bertahan. Saya pun menyadari bahwa selama ini saya salah mengartikan sabar.
Sabar bukan berarti kita mengabaikan permasalahan lalu pergi.
Sabar bukan berarti kita mengambil sisi positif atas sesuatu yang sebenarnya negatif.
Sabar bukan berarti kita menerima untuk dihujat oleh masalah.
Ternyata, sabar itu.. berhenti sejenak, tanpa jastifikasi atau judging sesuatu, memikirkan semua sisi, lalu mencari solusi. Jadi.. ibun harus berani untuk..
Hadapi! Kalau kabur, nanti bakal ketemu lagi deh sama masalah itu. Percaya deh. Mendingan hadapin dan segera selesaikan.Jika memang salah, bilang itu salah, dan beritahu apa yang benar, dengan perkataan baik yang tidak menyakiti. Nah, biasanya pas bagian mencari perkataan yang tidak menyakiti ini nih yang agak susah. Tapi percaya deh, ibun pasti bisa, insyaallah. Kalau ada niat baik, pasti dibantuin sama yang punya perbendaharaan kata (a.k.a. Tuhan)
Dan untuk menuju ke sabar yang hakiki tanpa judging buat saya (dan mungkin untuk sebagian besar orang) itu cukup challenging. Jangankan sabar, tenang aja nggak bisa. Sumbunya pendek bener. Apalagi saya menjalani hubungan jarak jauh, hidup dengan orang tua yang mulai menunjukkan tanda-tanda lansia, dan menghadap anak balita yang belum bisa diajak diskusi. Ada aja yang bikin emosi dan bikin gampang banget bilang "Susah banget sih dibilangin.." "Kok nggak dengerin sih.." Huhu. Judging banget ya? Siapa tahu kan anak dengerin tapi dia bingung cara menyampaikan pendapat.
Namun, setelah saya pelajari ritme emosional dan fisik saya, nih Bun, saya menemukan beberapa hal yang membantu saya agar bisa berpikir lebih tenang ketika bertemu dengan permasalahan. Yah, seenggaknya sumbunya bisa lebih panjang dikit, jadi nggak gampang emosian. Hehe. Ini adalah sesuatu yang dulu saya sepelekan, tapi ternyata benar-benar berpengaruh kepada diri saya.
#1. Makan yang cukup dan teratur.
Perut kosong membuat otak nggak bisa berpikir. Tapi, makan kebanyakan juga bikin obesitas yang bisa bikin penyakit. Kalau sudah penyakitan terus melihat biaya rumah sakit mahal, makin stres nih, Bun. Belum nanti kepikiran gimana cara ngejaga anak kalau amit-amit kitanya masuk rumah sakit. Makin ga tenang..
#2. Tidur yang cukup.
Jumlah jam tidur kayanya sih tergantung siklus badan. Untuk saya, tidur minimal 6 jam dalam satu hari sudah cukup membuat otak fresh.
#3. Olahraga.
Sama, jumlah jamnya menurut saya tergantung siklus badan. Kalau saya, saya merasa olahraga 30 menit sehari sudah cukup untuk membakar kalori dan melatih pernafasan yang berguna untuk melatih fokus. Kalau fisik kita lelah karena olahraga insyaallah tidur juga bisa lebih cepet, Bun.
#4. Silaturahmi.
Kalau bisa nih berkunjung ke keluarga yang lebih tua.. Siapa tahu mereka kangen. Atau, say hello ke teman lama juga termasuk silaturahmi lho, Bun. Manusia itu makhluk sosial. Kita butuh berbicara dengan manusia, bukan cuma dengan gadget, bukan cuma ke followers yang mungkin ga peduli-peduli amat sama tempat bagus yang kita posting. Hadiahnya, mungkin juga kita bisa mendapat jawaban permasalahan kita dari pengalaman kerabat yang kita kunjungi.
#5. Tetap Sibuk
Dulu, saya kira me time terbaik adalah nonton drakor. Ternyata, me time terbaik adalah.. nyetrika sambil nonton drakor, atau nyapu sambil dengerin musik dan nyanyi-nyanyi.. Pokoknya yang bikin anggota badan gerak. Selain bisa mengalihkan fokus kita ke hal lain yang lebih bermanfaat, dan bisa bikin rumah rapi juga. He he he. Kalau rumah rapi kan otak jadi lebih happy.
Tapi, ya, yang penting harus sibuk deh. Mau itu ngerjain hobi, lanjut ngerjain kerjaan, minta tambahan kerjaan.. *eh *ngga gitu ya? *maap maap.
Kadang, kita cuma butuh fresh eye untuk melihat suatu masalah. Jadi, setelah mengalihkan fokus sebentar, kita bisa melihat masalah utama dari sisi yang berbeda ketika kembali.
#6. Ibadah.
Ingat, bahwa kita dilahirkan oleh yang Maha Besar. Ada Raja yang selalu melindungi kita. Cuma Raja ini yang bisa menolong kita. Ia adalah jawaban dari segala jawaban. Ia adalah tempat kita meminta apapun. Si Raja pernah berkata di surat Al-Ashr,
"Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu ada di dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, berbuat kebaikan, menegakkan kebenaran, dan saling mengingatkan untuk sabar".
Si Raja pakai diksi "Demi Masa". Jadi, ini semua adalah masalah waktu. Bersabarlah. Percaya saja, Bun. Kayak waktu si Woody dan teman-teman di Toy Story 3 pasrah ga bisa ngapa-ngapain melihat api yang besar di depan mata, padahal mereka sudah berjuang sebelumnya buat keluar. Ketika mereka pasrah, ketika itu pula pertolongan datang.
Ini semua saya pahami setelah mengalami berbulan-bulan burn out. Tapi, kalau ibun merasa permasalahan ini sampai mengganggu pola tidur dan ada perubahan gejala fisik, seperti jadi lebih sering sakit atau perubahan berat badan, jangan ragu untuk menghubungi profesional, psikiater atau psikolog. Saya kemarin juga sempat terbantu setelah mengobrol dengan psikiater melalui aplikasi kesehatan itu.
Gitu aja dulu ya sharingnya. Semoga membantu, Bun. You never walk alone. Peluk sayang buat ibun di seluruh tata surya.
Saya pun masih berjuang untuk bisa lebih bersabar. Yang penting terus berjuang ya, Bun. Semoga kita bisa menjadi manusia yang lebih baik. Doa yang terbaik buat ibun-ibun semua. Doakan saya juga, ya, Bun.
Warm love,
Ghu.
Waa menginspirasi Mbak Ghe 😍
BalasHapusAlhamdulillah.. semoga berfaedah ya, Kan..
Hapus