Celingak-celinguk, saya mencari Safa. Biasanya kalau sudah selesai sekolah, Safa akan standby digerbang ditemani kakak-kakak guru. Atau setidaknya menunggu di kursi tamu. Saya tengok-tengok, tapi kok nggak ada? Akhirnya saya masuk ke dalam sekolah.
Rupanya Safa lagi sesenggukan habis nangis. Lalu Bu Mutia, Bu Guru Safa, cerita..
"Tadi ada drama nih, Bu. Safa kan sosialisasinya sudah bagus banget. Biasanya, kalau masuk ke kelas lintas usia, kakak-kakak senang main sama Safa. Kalau sama teman seumuran pun paling rebutan mainan sebentar, terus main bareng lagi. Bu Mutia sudah sering ngelepas Safa main.
Tapi hari ini beda. Teman-teman Safa biasanya nggak masuk. Hari ini, ada anak baru. Tapi kayanya anak ini belum pernah main sama teman, jadi self defensenya masih tinggi. tadi kata Safa, Safa sedih karena temannya nggak mau diajak main padahal Safa selalu ngalah.
Bu Mutia ajak main, Safa nggak mau. Maunya main sama teman. Tapi temannya nggak mau diajak main.
Tadi sih di dalem cuma sesenggukan aja. Tapi masih mau rapihin mainan. Begitu temannya pulang, langsung nangis kejar"
Ya ampun, Nak. Bisa-bisanya berusaha tegar gitu. *peluk Safa.
Bu Mutia cerita sambil pompa balon. Habis dikasih balon, Safa happy lagi.
--
Di mobil, Safa nanya, "Kok Safa dikasih balon?"
Saya jawab, "Karena Safa hebat, sudah mau berusaha mengalah. Terima kasih ya sayang.. Tadi Safa sedih ya karena temannya nggak mau main bareng?"
"Iya.."
"Ga apa-apa ya, kak.. Temannya Safa masih kecil, jadi belum mengerti. Safa mau maafin teman Safa?"
"Mau.."
"Safa masih sedih apa sudah happy?"
"HAAPPPYYYY. Kok temannya Safa nggak dikasih balon?"
Ya ampun, kak, masih mikirin temannya.. :')
*peluk-peluk tipis, lagi dimobil nggak bisa lebay. Tapi dalam hati terharu banget.
Komentar
Posting Komentar