Langsung ke konten utama

Berkelana Mencari PAUD

Suatu hari, "Ma, Safa mau sekolah kayak upin ipin"

Memang kalau di buku Kesehatan Ibu dan Anak dianjurkan memasukkan anak usia 2+ ke PAUD. Karena, anak usia ini sudah butuh bersosialisasi. Tapi, karena saya sering mendengar dan melihat sendiri anak-anak yang trauma ke sekolah, sekolah yang cuma formalitas, dan cerita-cerita yang tidak mengenakkan lainnya, hal itu membuat saya menahan diri untuk mencari sekolah. Terlebih lagi, kekhawatiran tentang korona membuat saya menetapkan hati untuk menundanya, sampai si anak benar-benar siap. Indikator siapnya apa? Saya juga nggak tahu. He he.

Sampai akhirnya si anak minta sekolah di usia 2 tahun 5 bulan. Wah.. Kek mana ini? Apakah ini saatnya?

Langsunglah kita coba cari-cari sekolah. Dalam hal mencari sekolah ini, nggak seperti kebanyakan ibu-ibu yang googling dulu baru ngajak anak, kalau saya langsung ngajak anak dan on the spot melihat situasinya.

Di sekolah pertama, anak saya ditanyain gurunya "Eh, jangan takut, sini sama bu guru. Siapa namanya?" Duh, kalau dibilang jangan takut, ya si anak malah takut atulah bu.. :')

Sekolah pertama ini sebenarnya jaraknya dekat dari rumah. Tapi, saya lihat anak-anak yang bermain sering banget teriak-teriak. Belum lagi ibu-ibunya yang suka ngumpul untuk merumpi. Waktu saya tengok ke dalam, saya melihat anak-anak sedang belajar mewarnai. Saya tanya-tanya ibu-ibu, ya.. belajarnya ya itu, belajar mewarnai, menggambar, bernyanyi... Hmm..

Kalau itu aja sih sudah kami lakukan di rumah setiap hari. Ada nggak ya, sekolah yang bisa melatih motorik halus dan kepercayaan diri?

Lalu beberapa hari kemudian, kami pergi ke sekolah kedua. Tempatnya bagus. Guru-gurunya juga sepertinya pintar. Tapi begitu bu gurunya bicara, dia bicara pakai dwibahasa. Bukan sesuatu yang salah sebenarnya. Ini masalah preferensi saja. Saya ingin anak saya mencintai bahasa ibu. Jadi, walaupun di sekolah belajar dwibahasa, seharusnya yang sopan ketika bicara dengan orang Indonesia, ya, pakai bahasa Indonesia. Sekali lagi, ini preferensi saja ya, Bun.

Lanjut ke sekolah yang ketiga. Ini sekolah dwibahasa juga. Tapi, gurunya bicara dengan saya pakai bahasa Indonesia formal. Wah, cakep nih. Begitu lihat harganyaa..... Menjerit hati inii... 

Uang pangkal : 10 juta
Bulanan : 1,5 juta
Play kit bulanan : 300 ribu
Seragam : 200 rb/pcs

Huwoow.

Ganti.

Suatu hari, saya melihat iklan Sekolah Murid Merdeka (SMM). Tanpa tahu apa itu Sekolah Murid Merdeka, langsung lah saya cari tahu hub terdekat. Saya whatsapp customer service untuk menanyakan jadwal yang terisi, agar saya bisa lihat teman-teman dan lingkungannya. Meluncurlah kami di jadwal yang diberikan.

Sampai sana, Safa langsung disambut oleh temannya. "Yeeey" kata si teman sambil memeluk Safa. Langsunglah mereka main bareng. Ibu si anak tadi terlihat santai pakai baju rumah. Saya lihat tanggannya ada tato salib. Tapi ibu ini ramah dan sopan sekali. 

Bu Guru lalu keluar kelas menyambut saya. Kami bicara dengan bahasa Indonesia yang baik.  "Nama saya Bu Mutia", kata bu guru seperti menekankan bahwa mereka mau dipanggil "Bu" dibanding "Miss". Kami pun masuk ke ruang kelas.

Pulang dari sana, kami bertemu dengan beberapa anak SMP. Dari luar mereka riuh berbicara dengan bahasa Inggris. Lalu ketika kami tanya, "Kelas berapa, Mba?" 

"Kami kelas tujuh, tante" jawab mereka dengan santun. Mereka pun permisi. Saya lihat memandangi mereka dari atas ke bawah, yang satu dengan baju stylish dan sepatu high heels, yang satu lagi dengan kaos dan celana panjang.

Tidak ada ayunan, prusutan, atau jungkat-jungkit. Di dalam, hanya ada buku, boneka, dan mainan-mainan yang membutuhkan imajinasi, keberanian, dan kerjasama. Setidaknya itu first impression saya. Setelah berbincang-bincang dengan Bu Guru, kami pamit karena jam sekolah sudah mau dimulai. Di mobil, saya tanya ke Safa, "Safa happy ke sekolah?"

"Happyy.."

"Mau sekolah di sana?"

"Mauu.."

Lalu barulah saya googling tentang Sekolah Murid Merdeka. Saya mau anak saya di sini, agar keterampilan nya terasah, tapi bisa tetap membumi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perdana Nangis Di Sekolah : Drama Anak Jalanan Vs. Anak Rumahan

Celingak-celinguk, saya mencari Safa. Biasanya kalau sudah selesai sekolah, Safa akan standby digerbang ditemani kakak-kakak guru. Atau setidaknya menunggu di kursi tamu. Saya tengok-tengok, tapi kok nggak ada? Akhirnya saya masuk ke dalam sekolah. Rupanya Safa lagi sesenggukan habis nangis. Lalu Bu Mutia, Bu Guru Safa, cerita.. "Tadi ada drama nih, Bu. Safa kan sosialisasinya sudah bagus banget. Biasanya, kalau masuk ke kelas lintas usia, kakak-kakak senang main sama Safa. Kalau sama teman seumuran pun paling rebutan mainan sebentar, terus main bareng lagi. Bu Mutia sudah sering ngelepas Safa main. Tapi hari ini beda. Teman-teman Safa biasanya nggak masuk. Hari ini, ada anak baru. Tapi kayanya anak ini belum pernah main sama teman, jadi self defensenya masih tinggi. tadi kata Safa, Safa sedih karena temannya nggak mau diajak main padahal Safa selalu ngalah.  Bu Mutia ajak main, Safa nggak mau. Maunya main sama teman. Tapi temannya nggak mau diajak main. Tadi sih di dalem cuma se...

Tips Menghadapi Burn Out

"Mama udah happy ?" Ya Allah, Bun, rasanya campur aduk mendengar pertanyaan itu dari anak 20 bulan yang baru saja saya omelin habis-habisan atas kesalahan yang tidak terlalu berarti. Saya pun merasa bersalah karena saya sadar bahwa omelan ini bukan tentang kesalahannya.  Lalu saya menangis, di depan anak ini. Tangis saya makin menjadi setelah mendengar pertanyaan itu. Bisa-bisanya dia masih mengkhawatirkan kebahagiaan saya. "Sini sayang, mama boleh minta peluk? Maafin mama ya, sayang.." --- Ada hari ketika otak benar-benar burn out . Butuh berbulan-bulan untuk menggali permasalahan dan "berdamai" dengan segala hal. Butuh juga "berkelana" ke sana sini untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang seperti tidak ada jawaban. Sempat juga tidak percaya kepada Tuhan, marah atas jalan yang diberikan, dan marah dengan keadaan.  Rasanya seperti seluruh dunia tidak ada yang memihak, atau sendirian di tengah kegaduhan.. tidak ada yang mendengar padahal saya ...

If I am an Israel government

If I am a president of Israel, I will choose to ceasefire. Why? Because right now, people in the world realize why in the past, most of country didnt accept Jew in their land. Yes, because they were afraid that this thing that happen to Palestine will happen to their country. There will be more ban about working together with Israel and its alliance. Their fear about their live existance is higher than the fall down of economic. And it will be more dangerous to Israel society. Their fund will be decrease because of the war, and in the long term, the cooperation with other country to strenghten their economic will decrease too.  America who are really capitalist I think will choose the path where they can generate more money in the future. Defend the war will pproduce the vice versa result. More over, they have seen what Israel do to Gaza Hero. It is a brutal war. Not a strategic war. It is really clear that the proportion of revenge is higher than self-defense. If Israel loose its ...