Belakangan, banyak teman-teman yang punya anak usia 3 - 4 tahun bercerita kalau mereka mulai dibuat bingung dengan pertanyaan "kenapa" dari anak-anak mereka. Sebagai ibuk-ibuk yang lumayan ambisius ya kalau ngomongin perkembangan anak, awalnya lumayan kagok. Kalau dulu pasti udah pusing nih, langsung googling, beli buku ini itu, atau kalau bisa nanya psikolog nanya dah. Terus kalau udah ngikutin saran ini itu dan ga berhasil, rasanya kek gagal jadi orang tua. Haha, jaman-jaman ituuh...
Kalau sekarang, ketika tahu ada tahap perkembangan yang ga sama kayak anak lain, biasanya saya akan merefleksikan diri dulu. Misalnya masalah sekarang. Kenapa yak saya merasa pertanyaan si ndok belum sampai tahap annoying seperti yang dialami ibuk-ibuk lain? Apa emang belum masanya saja? Atau ada stimulasi yang kurang? Atau emang tipikal anaknya aja yang males mikir? Atau anaknya sering nanya tapi karena saya dasarnya suka mengajar, jadi ga berasa waktu dia tanya tanya? Saya mau anak saya seperti apa di masa depan?
Oke, kita runut dulu dari saya mau Safa jadi anak yang seperti apa? Jadi macam Albert Einstein yang jenius? Atau jadi Fiersa Besari si seniman yang peka terhadap lingkungan? (Anyway, Albert Einstein juga seniman sih)
Oke, saya hanya ingin Safa bisa mengambil keputusan yang tepat buat hidupnya. Jadi, saya sekarang tidak boleh terlalu ikut campur dengan apa yang dia pikirkan, tapi kalau ada yang membahayakan baru direm.
Apakah ga bisa bertanya "kenapa" membahayakan? Hmm ya sedikit. Dia jadi tidak bisa berfikir kritis. Tapi apakah itu bisa membunuhnya? Nggak sih. Baiklah. Santai saja. Kita pikirkan nanti.
Lalu, tadi pagi waktu kita nonton Spongebob, saya sepertinya tahu jawabannya. Saya yang emang suka lumayan cerewet kalau melihat sesuatu yang tidak masuk akal lalu nyeletuk, "lho, kok ikan lari ya kak? Bukannya ikan berenang?"
Safa diam sebentar seperti berfikir lalu menjawab, "Mungkin karena ini cuma kartun mah.. jadi ikannya bisa lari"
Saya mengangguk, bukan karena jawaban Safa, tapi karena sepertinya saya tahu jawaban dari pertanyaan "Kenapa" itu. Saya pun lalu melanjutkan,
"Oh iya juga ya.. karena ini kartun jadi ikannya bisa lari. Ada ada aja nih yang bikin kartun.. padahal yang asli mah ikan berenang ya kak?"
Ya.. ya.. tanpa saya sadar sepertinya selama ini saya menjadikan dia merasa dirinya adalah guru atau teman saya. Jadi dia mau ga mau ikut mikir jawabannya.
Saya jadi inget, beberapa waktu lalu ketika lagi mandi bareng, dia terlihat seolah-olah menggunting air keran pakai dua jarinya. Lalu saya bertanya, "Ngapain, kak?"
Safa : He he he, ceritanya Safa lagi gunting air
Mama : Emang bisa?
Safa : He he he, ya ga bisa lah.. air kan cairan..
Mama : Kalau cairan ga bisa digunting kak?
Safa : Iya.. kalau kertas baru bisa digunting
Mama : Ooh.. kalau batu bisa digunting?
Safa : Ga bisa lah..
Mama : Kenapa?
Safa : Nanti batu bisa merusak gunting
Oooh ternyata mamak yang lebih sering nanya "kenapa". 🤣
Tapi kalau diingat-ingat, pernah sih Safa ngasih pertanyaan yang lumayan menguras otak.
Suatu hari kita lagi belajar siang dan malam pakai Globe kecil. Lampu kamar kita matikan. Lalu, mamak kasih senter ke negara Inggris. Kalau diinggris kenak sinar senter, di indonesia gelap. Lalu safa nanya,
Safa : Indonesia sama Inggris itu beda pulau?
Mama : Betul
Safa : Kita sekarang lagi ada di pulau?
Mama : Betul, kita di pulau jawa. Waktu kita ke lampung tuh, kita kan naik kapal. Inget ga? Nah kita naik kapal karena Lampung ada di pulau sumatera. Kita ada di pulau jawa. Jadi harus naik kapal.
Safa : Kita di pulau jawa?
Mama : Iya
Safa : Kok airnya ga keliatan?
Mama : *mikir keras* karena pulau jawa besaaar sekali. Jadi airnya jauh.
Safa : Tapi kenapa ga keliatan?
Mama : *wah safa ga puas. Apa lagi ya?* Karena pulau jawa besar banget ka. Mmm misalnya apa ya. Ooh. Misalnya ini. Safa bisa liat monas ga?
Safa : *Liat jendela* Nggak
Mama : Kenapa ngga bisa?
Safa : Karena jauh
Mama : Naah. Sama kak. Kita ga bisa liat air karena saking besarnya pulau jawa, airnya jauuuh sekali.
Safa : Kita tidur yuk mah
Hahaha. Kebiasaannya Safa. Kalau capek mikir, akhirnya ngantuk sendiri.
Oh, ternyata bukan karena perkembanhan Safa yang telat. Mungkin memang stimulasi di rumah beda-beda, tergantung orang tua dan anak juga. Jadi saya ga perlu khawatir. Ibuk-ibuk lain juga ga perlu khawatir. Selama kita yakin kita sudah maksimal, insyaallah hasil ga pernah mengkhianati usaha.
Dan pelajaran dari refleksi hari ini adalah.. memang mamak tuh harus pintar. Harus open juga sama semua ilmu. Walau suka ngomelin ayah karena ayah suka ngupil sembarangan dan akhirnya diikutin si ndok, Mamak pun banyak belajar dari ayah karena kalau ayah jelasin sesuatu bisa mentrigger bayangan kita secara visual. Mamak sekarang berusaha menjelaskan sesuatu secara visual. Kalau ga bisa, mamak ajak Safa membayangkan. Tapi ya mamak harus sabar sama semua trial and error, karena ga semua ilmu bisa diaplikasikan ke semua anak, sama rata.
--
Ciledug, 4 Juni 2023.
Safa 4 th 2 bulan.
Komentar
Posting Komentar