Langsung ke konten utama

Aroma Croissant

Satu minggu terakhir saya cukup takut dengan perang di Israel. Ini perang yang cukup membingungkan. Berbeda dari perang pada umumnya. Beda dengan Indonesia yang rakyatnya sudah menetap turun temurun. Beda dengan malaysia, spanyol, dan belahan bumi lainnya. Ini perang tentang siapa yang harusnya berada di tanah siapa. Tentang siapa yang lebih dulu benar. Siapa yang terusir? Bani israil, atau masyarakat palestina?


Saya baca beberapa artikel. Ternyata, perusahaaan sekelas air b n b pernah hampir dikenakan sanksi karena menghapuskan daftar properti yang ada di Israel. Mereka dikenakan hukum anti boikot. Pun Loreal di tahun 90an. Loreal sebenarnya tidak memboikot. Saya pikir mereka hanya pure ingin berbisnis di semua negara. Namun, karena mereka membuka bisnis di Arab yang notabene memboikot perusahaan Israel, jadilah mereka juga dikenakan sanksi.


Saya merasa bodoh sekali karena saya tidak paham hukum. Hukum yang dibuat sendiri oleh manusia. Saya tidak tahu, apa hukumnya jika ada suatu bangsa di tahun 1948 diusir dari tanahnya.  Saya tidak tahu, apakah jika Palestina benar-benar hanya sejarah, apakah itu akan menurunkan harkat dan martabat negara. Saya tidak tahu, apakah jika negara Palestina bisa berdiri, bagaimana negara itu bisa menghidupi dirinya sendiri kalau selama puluhan tahun ini tidak ada pergerakaan ekonomi, sosial, dan budaya di sana.


Toh, Allah langsung yang memerintahkan kiblat kita menghadap Kakbah.


Tapi kalau harus Israel menang, saya khawatir dunia makin kacau dengan segala hukum yang dibuat oleh manusia. Yang mengedepankan rasionalitasnya. Ini benar - benar membuat saya takut.


Beberapa hari ini, saya khusyuk berdoa, terserah siapa yang akan menang, yang penting ada damai di sana, dan masyarakatnya bisa melakukan hal lain yang lebih bermanfaat. 


Dan ketika solat Isya tadi, kau tahu? Aku mencium aroma croissant. Aromanya nikmat. Sepertinya memang Israel akan menang. Tapi aku rasa, ini pertanda yang baik, bahwa Islam sebentar lagi akan menjumpai kejayaannya. Entah apa hubungannya. Tapi entah kenapa aku yakin. Mungkin.. inilah alasan Allah menurunkan Islam sebagai rahamatan lil 'alamin, yakni sebagai pembawa kasih sayang atau kedamaian di seluruh alam. Apa kamu bisa membayangkan jika Islam tidak hadir setelah Bani Israil terusir? Apa jadinya jika yang terusir bukanlah negara Palestina, melainkan aliran komunis misalnya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perdana Nangis Di Sekolah : Drama Anak Jalanan Vs. Anak Rumahan

Celingak-celinguk, saya mencari Safa. Biasanya kalau sudah selesai sekolah, Safa akan standby digerbang ditemani kakak-kakak guru. Atau setidaknya menunggu di kursi tamu. Saya tengok-tengok, tapi kok nggak ada? Akhirnya saya masuk ke dalam sekolah. Rupanya Safa lagi sesenggukan habis nangis. Lalu Bu Mutia, Bu Guru Safa, cerita.. "Tadi ada drama nih, Bu. Safa kan sosialisasinya sudah bagus banget. Biasanya, kalau masuk ke kelas lintas usia, kakak-kakak senang main sama Safa. Kalau sama teman seumuran pun paling rebutan mainan sebentar, terus main bareng lagi. Bu Mutia sudah sering ngelepas Safa main. Tapi hari ini beda. Teman-teman Safa biasanya nggak masuk. Hari ini, ada anak baru. Tapi kayanya anak ini belum pernah main sama teman, jadi self defensenya masih tinggi. tadi kata Safa, Safa sedih karena temannya nggak mau diajak main padahal Safa selalu ngalah.  Bu Mutia ajak main, Safa nggak mau. Maunya main sama teman. Tapi temannya nggak mau diajak main. Tadi sih di dalem cuma se...

Tips Menghadapi Burn Out

"Mama udah happy ?" Ya Allah, Bun, rasanya campur aduk mendengar pertanyaan itu dari anak 20 bulan yang baru saja saya omelin habis-habisan atas kesalahan yang tidak terlalu berarti. Saya pun merasa bersalah karena saya sadar bahwa omelan ini bukan tentang kesalahannya.  Lalu saya menangis, di depan anak ini. Tangis saya makin menjadi setelah mendengar pertanyaan itu. Bisa-bisanya dia masih mengkhawatirkan kebahagiaan saya. "Sini sayang, mama boleh minta peluk? Maafin mama ya, sayang.." --- Ada hari ketika otak benar-benar burn out . Butuh berbulan-bulan untuk menggali permasalahan dan "berdamai" dengan segala hal. Butuh juga "berkelana" ke sana sini untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang seperti tidak ada jawaban. Sempat juga tidak percaya kepada Tuhan, marah atas jalan yang diberikan, dan marah dengan keadaan.  Rasanya seperti seluruh dunia tidak ada yang memihak, atau sendirian di tengah kegaduhan.. tidak ada yang mendengar padahal saya ...

If I am an Israel government

If I am a president of Israel, I will choose to ceasefire. Why? Because right now, people in the world realize why in the past, most of country didnt accept Jew in their land. Yes, because they were afraid that this thing that happen to Palestine will happen to their country. There will be more ban about working together with Israel and its alliance. Their fear about their live existance is higher than the fall down of economic. And it will be more dangerous to Israel society. Their fund will be decrease because of the war, and in the long term, the cooperation with other country to strenghten their economic will decrease too.  America who are really capitalist I think will choose the path where they can generate more money in the future. Defend the war will pproduce the vice versa result. More over, they have seen what Israel do to Gaza Hero. It is a brutal war. Not a strategic war. It is really clear that the proportion of revenge is higher than self-defense. If Israel loose its ...