Langsung ke konten utama

Secuil Perasaan Marah

Dari Indonesia.


Bu Retno, mentri luar negeri kami, mati-matian membela Palestina di berbagai forum internasional.

Setelah meeting penting diantara negara-negara OKI, beliau bersama presiden kami, Pak Joko Widodo, berangkat ke Amerika untuk beberapa agenda, termasuk kesimpulan dari meeting itu.

Untuk saya, agak janggal mengirim Pak Joko Widodo, presiden Indonesia, yang tidak terlalu punya bahan untuk deal ini, untuk menyampaikan pesan dan bernegosiasi. Ketika presiden kami mengutarakan hal ini, disambut dengan Pak Biden yang tiba-tiba keluar topik dan membahas climate change, lalu presiden kami tidak bisa membalas apa-apa, dalam hati saya berteriak, "What the H***".

Saya lalu membayangkan menjadi Bu Retno. Betapa terpoteknya hati ini.

Entah, apa yang akan terjadi di beberapa minggu atau beberapa bulan kemudian. Yang pasti, beberapa minggu ini, bahkan melihat stiker McD saja membuat saya ingin muntah. Akhirnya saya copot stiker itu dari mobil saya, sebuah komitmen untuk tidak lagi memperkaya negara-negara adidaya. Sudah cukup puluhan tahun ini uang kami memperkaya kalian.

Itu sebabnya juga, saya tidak mendaftar beasiswa Chevening. Supaya tidak ada rasa bersalah di kemudian hari. Jadi saya tetap berusaha mendaftar LPDP atau beasiswa dalam negri lainnya. Agar suatu hari, saya bisa mengembalikan semuanya kepada negara dan berteriak kepada negara, "Hey, jangan sia-siakan uang dan ilmu kita untuk kepentingan mereka".

Entah, apa yang akan terjadi di beberapa minggu atau beberapa bulan kemudian. Mungkin, Palestina benar-benar akan tidak ada, atau hanya tersisa secuil area di daerah tepi barat. Tapi yang jelas, semua terlalu nyata untuk saya, bahwa selama ini kami hanyalah alat memperkaya orang-orang jahat. Saya akan ingat ini selamanya. Dan berdoa, semoga mereka yang tertawa atas kematian puluhan ribu atau mungkin jutaan manusia yang syahid, suatu saat akan menerima balasannya.

Beri kami semua kekuatan ya Allah, dan tunjukkanlah kuasamu. Aku mohon.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perdana Nangis Di Sekolah : Drama Anak Jalanan Vs. Anak Rumahan

Celingak-celinguk, saya mencari Safa. Biasanya kalau sudah selesai sekolah, Safa akan standby digerbang ditemani kakak-kakak guru. Atau setidaknya menunggu di kursi tamu. Saya tengok-tengok, tapi kok nggak ada? Akhirnya saya masuk ke dalam sekolah. Rupanya Safa lagi sesenggukan habis nangis. Lalu Bu Mutia, Bu Guru Safa, cerita.. "Tadi ada drama nih, Bu. Safa kan sosialisasinya sudah bagus banget. Biasanya, kalau masuk ke kelas lintas usia, kakak-kakak senang main sama Safa. Kalau sama teman seumuran pun paling rebutan mainan sebentar, terus main bareng lagi. Bu Mutia sudah sering ngelepas Safa main. Tapi hari ini beda. Teman-teman Safa biasanya nggak masuk. Hari ini, ada anak baru. Tapi kayanya anak ini belum pernah main sama teman, jadi self defensenya masih tinggi. tadi kata Safa, Safa sedih karena temannya nggak mau diajak main padahal Safa selalu ngalah.  Bu Mutia ajak main, Safa nggak mau. Maunya main sama teman. Tapi temannya nggak mau diajak main. Tadi sih di dalem cuma se...

Tips Menghadapi Burn Out

"Mama udah happy ?" Ya Allah, Bun, rasanya campur aduk mendengar pertanyaan itu dari anak 20 bulan yang baru saja saya omelin habis-habisan atas kesalahan yang tidak terlalu berarti. Saya pun merasa bersalah karena saya sadar bahwa omelan ini bukan tentang kesalahannya.  Lalu saya menangis, di depan anak ini. Tangis saya makin menjadi setelah mendengar pertanyaan itu. Bisa-bisanya dia masih mengkhawatirkan kebahagiaan saya. "Sini sayang, mama boleh minta peluk? Maafin mama ya, sayang.." --- Ada hari ketika otak benar-benar burn out . Butuh berbulan-bulan untuk menggali permasalahan dan "berdamai" dengan segala hal. Butuh juga "berkelana" ke sana sini untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang seperti tidak ada jawaban. Sempat juga tidak percaya kepada Tuhan, marah atas jalan yang diberikan, dan marah dengan keadaan.  Rasanya seperti seluruh dunia tidak ada yang memihak, atau sendirian di tengah kegaduhan.. tidak ada yang mendengar padahal saya ...

If I am an Israel government

If I am a president of Israel, I will choose to ceasefire. Why? Because right now, people in the world realize why in the past, most of country didnt accept Jew in their land. Yes, because they were afraid that this thing that happen to Palestine will happen to their country. There will be more ban about working together with Israel and its alliance. Their fear about their live existance is higher than the fall down of economic. And it will be more dangerous to Israel society. Their fund will be decrease because of the war, and in the long term, the cooperation with other country to strenghten their economic will decrease too.  America who are really capitalist I think will choose the path where they can generate more money in the future. Defend the war will pproduce the vice versa result. More over, they have seen what Israel do to Gaza Hero. It is a brutal war. Not a strategic war. It is really clear that the proportion of revenge is higher than self-defense. If Israel loose its ...